Saturday, November 22, 2014

MUQADDIMAH

Asyhadu alla ilaaha illa Allah
wa Asyahdu anna Muhammad-ar-Rasuulullah

Salamun qaulamm-ir-Rabb-ir -Rahiim


Istimewa untuk anak anak  Bapak tak kira di manapun kalian berada ... 
Juga tak dilupakan kepada sesiapa sahaja yang Allah gerakkan mendarat di sini ... dipersilakan melayari lembar demi lembar ilmu hikmah ini.



Blog Utama (Thesis Diri Yang Ku Kenal)  : 

Blog Sekunder (Koleksi Kuliah Bapak Baginda 1971 - 1975) :





AMEEN YA RABBAL 'AALAMEEN





 Tengku 'Ain Mutiara Tengku Abdur Rahiim Ishaq
.


Wednesday, November 19, 2014

BAPAK DR BAGINDA MUCHTAR DIKURNIAKAN PHD DARI SAINT OLAV'S ACADEMY, PERANCIS


Pada 12th June 1971 Bapak Baginda Muchtar 
telah dikurniakan Doktor Falsafah dari Saint Olav's Academy, France.


Dari Padang, Bapak Dr. Baginda Muchtar beliau berpindah pula ke Palembang. Di sana beliau terus mengajar dan memberi pimpinan kepada orang-orang yang berminat dengan ilmunya. 

Di Palembang lah, (kira-kira tahun 1958) beliau mula menulis/mengarang bukunya ‘Diriku Yang Kukenal.’ (Penulisan buku ini tamat kira-kira 10 atau 11 tahun kemudian dan dikemukakan ke St Olav’s Academy, Perancis, sebagai tesis untuk melayakkanya memperoleh ijazah ‘Doctor of Philosophy’ yang diterimanya pada hari Sabtu 12 Jun 1971)

.
.

RAJAH/ DIAGRAM MAP THESIS BAPAK DR BAGINDA MUCHTAR

BAPAK DR BAGINDO MUKTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MOKHTAR MOKHTARBAPAK DR BAGINDO MUKTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MOKHTAR


ISI KANDUNGAN KESELURUHAN THESIS BAPAK DR BAGINDO MUCHTAR

BAPAK DR BAGINDO MUKTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MOKHTAR MOKHTARBAPAK DR BAGINDO MUKTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MOKHTAR
Nota: MUDAH ACCESS tanpa perlu ke link pada tab topic di sisi kiri blog. Silalah click pada page yang sudah ditanda <CLICK LINK - click pada page number , contohnya - page 89


1 MUQADDIMAH <CLICK LINK
7 KATA BERMULA <CLICK LINK


8 I: KISAHKU - CONTENT
9 Rahsia "HIDUP" - page 9 <CLICK LINK 
10 Rumah Nampak Jalan Tak Tentu - page 11 <CLICK LINK 
11 Rumah Sudah Tukang Dibunuh - page 12  <CLICK LINK 
12 Rumah Nampak Jalan Tak Tentu - page 13 <CLICK LINK 
13 Mencari Diri Kita Yang berdiri dengan sendirinya - page 16  <CLICK LINK 
14 Terang Gelap - page 17  <CLICK LINK
15 Apa yang tidak ada padaku, ada pada mu - page 19  <CLICK LINK 
16 Memperbaiki Keadaan Sendiri - page 20  <CLICK LINK 
17 Mengadakan Pengakuan Untuk Mendapatkan Pengakuan - page 21  <CLICK LINK 
18 Hidup Yang Kekal Abadi - page 23  <CLICK LINK 
19 Manusia Baru - page 24  <CLICK LINK 
20 Mendudukkan Diri Pada Tempatnya - page 25 <CLICK LINK 
21 Menampung dan Menyelesaikan Segala Yang Mendatang - page 26  <CLICK LINK 
22 Melahirkan Manusia Baru - page 28  <CLICK LINK 
23 Tenaga Rohani & Daya Gunanya - page 29  <CLICK LINK 
24 Isi Yang Serba Guna - page 30  <CLICK LINK 
25 Gunungkanlah Yang Setetes dan Lautkanlah Yang Sekepal - page 32  <CLICK LINK
26 Diri itu jernih, bersih - suci  - page 32  <CLICK LINK 
27 Orang yang tidak tahu di diri, kehilangan diri  - page 33  <CLICK LINK 
28 Kecerdasan kita menjadikan Dia besar  - page 34 <CLICK LINK 
29 Ketahuilah Dirimu  - page 37 <CLICK LINK  
30 Ada Tiada Tidak Ada Tiada Ada  - page 38 <CLICK LINK  
31 Apa artinya Hidup yang sebenarnya?  - page 39 <CLICK LINK 
32 Apa itu Diri dan ada apa di dalamnya?  - page 40 <CLICK LINK 
33 Kisah Kerbau Dengan Pedati - page 41 <CLICK LINK 
34 Apa itu tenaga batin? - page 43 <CLICK LINK 
35 Menjalani jalan kehidupan kita pada jalannya - page 46 <CLICK LINK 
36 Mencari rahsia hendaklah dengan rahsia pula - page 48 <CLICK LINK 
37 ILMUKU Ilmu Ghaib, Berasal Dari Yg Ghaib, 
     Datangnya Dari Yang Maha Ghaib - page 51 <CLICK LINK 
38 Dia berasalkan dari setitik - page 53 <CLICK LINK 
39 Yang benar ialah Dirimu bukan badanmu - page 54 <CLICK LINK  
40 Ada permulaan dan ada kesudahan - page 56 <CLICK LINK 
41 Kebodohan mu lah yang menyebab engkau berkurangan, 
     tidak puas, etc - page 58 <CLICK LINK 

SUB TOPIK: 8 I: KISAHKU 
42 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 1 - page 62 <CLICK LINK 
43 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 2 - page 64 <CLICK LINK
44 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 3 - page 66 <CLICK LINK 
45 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 4 - page 68 <CLICK LINK 
46 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 5 - page 70 <CLICK LINK
47 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 6 - page 72 <CLICK LINK
48 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 7 - page 74 <CLICK LINK
49 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 8 - page 76 <CLICK LINK
50 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 9 - page 78 <CLICK LINK
51 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 10 - page 80 <CLICK LINK
52 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 11 - page 82 <CLICK LINK
53 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 12 - page 84 <CLICK LINK
54 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 13 - page 86 <CLICK LINK
55 Petunjuk Petunjuk Untuk Kesempurnaan 14 - page 87 <CLICK LINK 


56 II: PENGAKUANKU - CONTENT
57 Buka Membuka - page 89  <CLICK LINK 
58 Jalan Menjalankan - page 92 <CLICK LINK 
59 Cukup Mencukupi - page 93 <CLICK LINK 
60 Kandung Mengandung - page 96 <CLICK LINK  
61 Lebih Melebihkan - page 97 <CLICK LINK 
62 Isi Mengisi - page 98 <CLICK LINK  
63 Kunci Mengunci - page 100 <CLICK LINK  
64 Liput Meliput - page 101 <CLICK LINK 
65 Diri Mendirikan - page 102 <CLICK LINK  
66 Kuasa Menguasai - page 104  <CLICK LINK 


67 III: KATAKU  - CONTENT
68 A-ku- Badan-ku- Diri-ku - page 106 <CLICK LINK
69 Apa yang dikehendaki diri dari kita? - page 108 <CLICK LINK
70 Satu bagiku adalah aku, dua diriku (hamba),  tiga badanku (saya) ? - page 110 <CLICK 
71 Aku adalah Pelita dalam rumah ku sendiri - page 111 <CLICK LINK
72 Bagiku, dalam bilangan adalah  '-1 - 10 - 100 - 1000 - page 114 <CLICK LINK
73 Dalam Rombongan - page 116 <CLICK LINK 
74 Gerak Allah lah yang menentukan akan segala sesuatunya - page 118 <CLICK LINK 
75 Perjalanan menuruti jalan diriku mendatangkan berlainan - page 120 <CLICK LINK 
76 Jalan - page 121 <CLICK LINK 
77 Tali Pergantungan ku - page 122 <CLICK LINK 


78 IV: "AKU" - CONTENT
79 Siapa aku - page 124 <CLICK LINK 
80 Rasa yang banyak mengundang rahasia - page 127 <CLICK LINK 
81 Mau apa aku? - page 135 <CLICK LINK 
82 Hendak ke mana aku? - page 136 <CLICK LINK 


83 V: HAMBA - CONTENT
84 Siapa Aku? - page 137 <CLICK LINK 
85 Aku tidak di kiri dan tidak pula di kanan - page 141 <CLICK LINK  
86 Aku seorang "Pengembara" - page 142 <CLICK LINK 
87 Aku dihidupkan dan menghidupkan  - page 144 <CLICK LINK 
88 Percaya kepada diri sendiri - page 146 <CLICK LINK 
89 Hamba - page 147 <CLICK LINK 


90 VI : TARIQAT MENGENAL DIRI - CONTENT
91 Tariqat Mengenal Diri - page 151 <CLICK LINK
92 Syariat - Tarikat - Hakikat - dan Makrifat harus sejalan- page 153 <CLICK LINK 
93 Ilmu yang paling baik, tinggi dan dalam
   ialah ilmu yang berdasarkan ke-Tuhanan - page 154 <CLICK LINK  
94 Aku berdiam di dalam suatu rumah - page 155 <CLICK LINK
95 Aku benar tak punyai apa-apa - page 159 <CLICK LINK
96 Aku adalah laksana kaca - page 161 <CLICK LINK
97 Dapatkah badan mengenal dirinya,
   dan sebaliknya tahukah diri akan keadaan badannya? - page 164 <CLICK LINK
98 Surah an Nuur Ayat 35 - page 165 <CLICK LINK 
99 Hidupku teratur, kerana ada yang mengatur - page 167 <CLICK LINK BLOM TOUCH UP
100 Diriku - page 169 <CLICK LINK BLOM TOUCH UP
101 Pandai-pandailah membawakan diri - page 172 <CLICK LINK 
102 Adalah aku dengan diriku ibarat sebatang pohon - page 173 <CLICK LINK 
103 Aku adalah pelita di dalam rumahku sendiri - page 174 <CLICK LINK 
104 "Orang luar" & "Orang dalam" - page 176 <CLICK LINK 
105 Saya - aku - dan hamba - page 177 <CLICK LINK 
106 "Doa darimu, perkenan dariku" - page 181<CLICK LINK


107 "Aku" (Dalam Sajak) Tajuk Tajuk - page 183 <CLICK LINK 
108 "Aku" (Dalam Sajak) Mana Jalanku?  - page 183 <CLICK LINK 
109 "Aku" (Dalam Sajak) A K U - page 184 <CLICK LINK 
110 "Aku" (Dalam Sajak) Dia dan Aku - page 184 <CLICK LINK 
111 "Aku" (Dalam Sajak) Engkau dan Aku - page 185 <CLICK LINK 
112 "Aku" (Dalam Sajak) Engkau - Dia - dan Aku  - page 186 <CLICK LINK 
113 "Aku" (Dalam Sajak) Engkau - Dia - Aku dan Saya - page 186 <CLICK LINK 
114 "Aku" (Dalam Sajak) Pemecahan ku - page 187 <CLICK LINK 
115 "Aku" (Dalam Sajak) Siapa aku - page 188 <CLICK LINK 
116 "Aku" (Dalam Sajak) D I A yang ku cari - page 189 <CLICK LINK 
117 "Aku" (Dalam Sajak) Anak Kunci ku - page 191 <CLICK LINK 
118 "Aku" (Dalam Sajak) Orang mencari aku - page 192 <CLICK LINK 
119 "Aku" (Dalam Sajak) Telah aku temui itu jalan - page 193 <CLICK LINK 
120 "Aku" (Dalam Sajak) Cukup Mencukupkan - page 194 <CLICK LINK 
121 "Aku" (Dalam Sajak) Renungan ku - page 195 <CLICK LINK 
122 "Aku" (Dalam Sajak) Pendirian ku - page 196 <CLICK LINK 
123 "Aku" (Dalam Sajak) Kandung Mengandung  dan Menanggung - page 197 <CLICK LINK 
124 "Aku" (Dalam Sajak) Aku telah bebas - page 198 <CLICK LINK 
125 "Aku" (Dalam Sajak) Kebebasan Ku - page 199 <CLICK LINK 


126 Siapa Aku - page 201
127 Berlainan Pandangan dan Penglihatan - page 201
128 Aku - page 202


.
BAPAK DOKTOR BAGINDO MUKHTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MUKHTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MUKHTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MUKHTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MUKHTAR BAPAK DOKTOR BAGINDO MUKHTAR 

BIOGRAPHY BAPAK DR BAGINDA MUCHTAR, Ph.D. (1916-1975)


By Abah Hakim on Tuesday, June 21, 2011 at 9:45pm (Group FB Bapak Baginda Muchtar)

   Muchtar bin Uddin atau lebih dikenali sebagai Bapak Dr. Bagindo Muchtar, Ph.D. adalah pengasas (founder) Ilmu Mengenal Diri. Rujukan utama kepada pengetahuan Mengenal Diri yang beliau pelopori terkandung di dalam buku beliau yang bertajuk 'Diriku Yang Kukenal.' Buku ini adalah tesis yang melayakkan beliau untuk dianugerahkan ijazah kedoktoran (PhD) oleh St. Olav Academy, Perancis.


   Bapak Dr. Bagindo Muchtar dilahirkan pada tahun 1916 di Pariaman, Padang, Sumatra. Ayahnya seorang dukun yang terkenal di daerah Pariaman dan seperti lain-lain dukun tradisional Melayu, beliau menggunakan serapah jampi dan mantera dalam upacara pengubatannya. Dalam tesisnya Bapak Dr Bagindo Muchtar merakamkan bahawa beliau pernah dijadikan anak angkat "oleh seseorang yang kemasukan untuk mendapat benda atau untuk keperluan sesuatu". Nyatalah bahawa sejak zaman kanak-kanak lagi beliau sudah terdedah kepada suasana mistik dan kebatinan, justeru tidak menghairankan juga jikalau Bapak Dr Bagindo Muchtar ikut tertarik kepada hal-hal kebatinan.


   Bapak Dr. Bagindo Muchtar menjadi seorang anak yatim sejak kecil lagi. Beliau mempunyai bapa tiri (apabila ibunya menikah lagi) yang menurut beliau sendiri "boleh dikatakan sayang tidak, benci pun tidak". Ibunya bagaimanapun sangat menyayangi beliau, kerana beliaulah anak lelaki yang sulung dan kepadanya terletak harapan di hari-hari tuanya. Bapak Dr Bagindo Muchtar mempunyai seorang adik kandung lelaki dan seorang adik perempuan dari lain bapa. Pada ketika iktisar ini ditulis, adik perempuannya tinggal di luar kota Jakarta. Sungguhpun demikian, ibunya yang dikasihi telah pulang ke Rahmatullah sebelum sempat beliau memenuhi segala harapan dan cita-citanya.


   Pada tahun 1935, iaitu ketika berusia 19 tahun dan baru tamat sekolah Belanda (IH), beliau telah merantau keluar dari daerah Padang. Destinasi pertamanya ialah Jambi dan di sana beliau bekerja sebagai kerani di sebuah syarikat minyak. Peningkatan dalam bidang pekerjaannya sangat mendadak sehingga dalam tempoh yang singkat ditukar ke bahagian carigali minyak di tengah hutan belantara Jambi. Sungguhpun begitu, kiriman wang kepada ibunya saban bulan tidak pernah putus.


   Pada tahun 1938 beliau diijabkabulkan dengan anak pamannya (bapa saudaranya) yang bernama Nurmali Syamsudin dan mereka dikurniakan tiga orang anak yang kesemuanya perempuan; yang sulung Hajjah Elly Salam Ghani, Hajjah Mulyati Djonhar yang tengah dan Suryati Muchtar yang bongsu.


   Dari Jambi Bapak Dr. Bagindo Muchtar dan keluarganya berpindah ke Palembang dan bekerja dengan Bata Shell Petrolium Maskapai (BPM). Setelah kira-kira 20 tahun bekerja di Palembang, satu peristiwa aneh telah berlaku ke atas dirinya; ada suara menyuruh beliau berhenti kerja. Suara itu berturut-turut datangnya hingga ke beberapa hari, lantas menimbulkan tanda tanya, apa maksud kesemua ini?


   Kejadian aneh itu direnung, ditenung dan ditimbang, sehingga beliau memutuskan untuk berhenti kerja. Kali pertama beliau menemui majikannya untuk minta berhenti kerja, permohonannya ditolak begitu sahaja dengan alasan bahawa tenaganya masih diperlukan. Dicuba lagi kali kedua, namum ditolak juga dengan alasan yang sama. Sampai satu ketika beliau memperolehi akal untuk mendapatkan surat doctor bagi ‘mengesahkan’ bahawa beliau sakit dan tidak boleh berkerja lagi. Dengan surat pengesahan itu, permohonan beliau untuk berhenti kerja diterima dan diberi pula ganjaran (gratuity) yang agak lumayan oleh majikannya. Dengan wang ganjaran berkenaan beliau bersama keluarganya pindah ke Jakarta dengan tujuan untuk membeli sebuah rumah dan dengan wang selebihnya pula beliau mahu berdagang. Beliau mendapati bahawa kota Jakarta tidak sesuai baginya, lalu terus ke Bogor. Bogor memikat hatinya, apa lagi dengan suasananya yang aman, udaranya yang nyaman dan tenteram pula. Cita-cita membeli sebuah rumah untuk keluarganya tercapai di Bogor. Meskipun baki wang ganjaran itu tidak banyak, beliau masih boleh jadikan wang untuk berdagang.


   Kehendak dari kita, namun ketentuan hanya dari Tuhan. Di Bogor beliau menghadapi cubaan yang sangat berat, iaitu apabila isterinya (Ibu Nurmila Syamsudin) jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia “akibat dari buatan ahli keluarga isterinya sendiri dengan dibantu oleh seorang dukun; katanya mengubat akan tetapi kenyataanya tambah memperdalamkan penyakitnya”. Isteri dikasihi dan dicintainya, yang banyak tahu dan mengerti padanya, dan yang telah bergaul sebagai suami isteri kira-kira 17 tahun, dengan suka duka mereka lalui bersama, meninggal pada hari Isnin 27 Februari 1955. Dicatatkan oleh Bapak Dr. Bagindo Muchtar bahawa sebenarnya rencana dari pihak ahli isterinya itu adalah terhadap badan dirinya dengan tujuan untuk dapat menguasai apa yang ada padanya. Mereka mengsyaki beliau memiliki banyak harta simpanan seperti emas dan sebagainya. Namun begitulah, beliau sendiri yang dituju, isteri tercinta pula yang jadi mangsa tak berdosa.


    Setelah isterinya meninggal, timbul pula tuduhan terhadap dirinya bahawa beliau adalah punca isterinya jatuh sakit dan meninggal dunia. Malah diperkatakan pula bahawa beliau sendiri membunuh isterinya. Keterangan-keterangan daripadanya tidak diendahkan oleh masyarakat sekeliling, bahkan adik kandungnya sendiri tidak memihak kepadanya. Dalam thesis Bapak Dr. Bagindo Muchtar mencatatkan “… kerana telah terlebih dulu dikuasai dan dipengaruhi oleh pihak dukun dan ahli keluarga isterinya.” Tambah Bapak lagi “… beliau dihukum tanpa diadili, tidak bersalah dikatakan bersalah, kemerdekaan dirampas dan harta-benda yang tak seberapa dikuasai pula.”

Tubuhnya pada waktu itu sangat letih dan lemah kerana menghadapi peristiwa yang berlaku terhadap badan dirinya dan isterinya; berjaga-jaga siang dan malam, menangkis segala macam serangan yang datang. Dikala itu beliau berasa seolah-olah ada yang mendampinginya, iaitu yang ghaib melindunginya untuk bisa bertahan bagi menghindar hal-hal yang tidak baik terhadap badan dirinya. Malah dikala itu juga, beliau berasa hubungannya dengan Tuhan sungguh dekat, kerana ingatan serta pasrah semata-mata kepada-Nya. Pada waktu itu beliau hanya bertekad mahu menuntut keadilan. Namun keadilan itu tidak mungkin diperolehi dari masyarakat. Beliau tidak mengadu hal yang berlaku kepada pihak polis, kerana semua hal tidak mempunyai bukti yang nyata. Justeru, beliau bertekad mencari Tuhan semata-mata hendak menemui-Nya untuk memohon keadilan. Hanya itulah tujuannya waktu itu; menemui Tuhan untuk minta diadili, memohon keadilan semata-mata.


    Sesudah selesai sembahyang maghrib pada satu malam Jumaat, beliau menadah tangan memohon keadilan kepada Allah s.w.t. Itulah usahanya memohon keadilan, seperti yang sudah sekian lama dilakukannya; berdoa kepada Tuhan semata-mata. Namun pada malam Jumaat itu, dia berasa tangannya seperti dikuasai oleh sesuatu denyut rasa yang aneh lalu kedua-dua belah tangannya bergerak, bergerak, bergerak dan bergerak. Beliau tidak dapat menguasai (control) pergerakan itu, lalu dituruti pergerakan tangannya, sambil melafazkan “Lailaha il-Allah” dengan penuh kehairanan. Kejadian yang sama berulang-ulang pada malam kedua dan ketiga, malah beliau mula bercakap sendirian ketika ‘bergerak’. 


     Dan beliau menyedari bahawa tenaganya mulai pulih, kesihatannya semakin baik dan fikirannya semakin mantap. Apabila beliau dapati surat-surat penting seperti hakmilik rumah, barang-barang perhiasan, pakaian dan lain-lain barang berharga sudah tiada di almari, beliau mulai bertindak. Dengan perantaraan seorang sahabatnya, beliau minta disampaikan supaya kesemua barang-barang miliknya dikembalikan dalam waktu yang singkat. Malah beliau memberi amaran jikalau itu gagal dilakukan, beliau akan membawa persoalan ini kepada pihak polis. Alhamdulillah. Pihak yang ‘memindahkan’ barang-barang berkenaan dari orang-orang tertentu telah bertindak memulangkan, meskipun tidak kesemuanya. Namun, perasaan tidak puas masih menyelubungi hatinya yang mahu kepastian dari seseorang yang lebih tahu mengenai peristiwa yang telah beliau hadapi; iaitu siapa yang benar dan siapa pula yang bersalah.


      Seorang jiran menganjurkan supaya beliau menemui seorang ulama besar di Jawa Barat, yang sering didatangi orang dan pembesar-pembesar, pun tidak ketinggalan alim ulama dan konon khabarnya satu-satunya ahli falak yang terpandai dan ternama di Indonesia. Beliau diberitahu oleh ulama berkenaan bahawa dalam perkara itu memanglah beliau di pihak yang benar dan pihak yang melakukan kerja jahat (dalam kes almarhum isterinya) adalah ahlinya sendiri.


   Sejak itu mulailah ada ketenangan dalam hatinya, namun rasa ingin membuktikan kebenarannya tatap masih terkesan dihatinya. Bersama anak-anaknya beliau pulang ke kampung halaman iaitu di Pariaman, Padang. Namun puteri-puterinya yang masih kecil sering pula bertanyakan mengenai ibu mereka. Bapak Dr. Bagindo Muchtar tidak sampai hati mendengar pertanyaan-pertanyaan anak-anaknya yang masih kecil, lalu memutuskan untuk menikah lagi iaitu dengan Ibu Hajjah Hasnah. Ibu Hasnah bagaimanapun tidak mempunyai anak dengan Bapak Dr. Bagindo Muchtar.


    Sesudah sebulan bernikah, Bapak Dr. Bagindo Muchtar mengambil keputusan untuk merantau bersama-sama dengan Ibu Hajjah Hasnah dan ketiga-tiga orang puterinya. Kali ini mereka sekeluarga pergi ke Jambi. Di Jambi, Bapak bekerja disebuah syarikat carigali minyak. Seorang teman sejawatnya telah meminta pertolongan Bapak untuk mengubat isterinya yang sakit sudah hampir dua tahun lamanya; sakitnya akibat perbuatan jahat. Pada temannya itu dia melihat kembali peristiwa yang pernah dialaminya sendiri. Beliau berasa sedih lalu memberi pertolongan kepada isteri temannya. Sesudah satu bulan, dengan izin Allah, isteri temannya kembali pulih seperti biasa. Beliau bagaimanapun menasihati temannya supaya meninggalkan Jambi, kerana temannya punya banyak musuh di Jambi. Justeru menghindar adalah lebih baik, Bapak sekeluarga dan temannya itu berpindah ke Medan. Di Medan temannya tinggal di rumah keluarganya sendiri, sementara Bapak sekeluarga pula tinggal di rumah keluarganya sendiri.


   Di Medan, nama beliau mulai disebut-sebut orang, khususnya dalam bidang tolong-menolong, sosial atau di bidang perubatan. Tidak berapa lama di Medan, peristiwa ghaib yang beliau alami semasa di Bogor sewaktu isterinya baru meninggal dialami kembali. Beliau mulai bercakap-cakap bersendirian dan tidak mahu makan, malah minum kopi hanya seteguk sahaja. Apa yang diperlakukan orang terhadap badan dirinya diceritakan kesemuanya, sampai keluarganya di Medan menganggap beliau sudah tidak siuman lagi. Namun, kejadian-kejadian pelik itu juga menyebabkan beliau mula dikenal oleh bomoh-bomoh, pawang-pawang, orang-orang kebatinan dan sebagainya. 


   Tidak kurang juga ada yang mencuba atau menguji dengan ilmu atau kepandaian masing-masing. Tetapi Alhamdulillah, dengan izin Allah, cubaan, ujian atau dugaan mereka tidak menjejaskan, malah ‘tenaga ghaib’ anugerah Allah itu dapat diketahuinya dengan lebih mendalam. Namanya terus jadi sebutan masyarakat sekeliling, malah mereka tidak lagi mendatangi bomoh atau pawang di daerah itu. Sebaliknya mereka datang kepada beliau. Hal ini tentulah menimbulkan rasa tidak senang dan iri hati bomoh dan pawang di daerah itu terhadapnya.


Bapak Dr. Bagindo Muchtar bagaimanapun tidak duduk di rumah sahaja, tetapi mengembara dari satu daerah ke satu daerah di seluruh pulau Sumatera; ke Palembang, Siantar, Tebing Tinggi, Pelabuhan Miri, malah ke seluruh daerah atau jajahannya. Apabila kembali ke Medan, beliau melapangkan masa menemui orang-orang yang datang meminta tolong, sementara pada malam harinya pula dikhaskan untuk membimbing, memberi kuliah, berjalan bersama-sama dengan murid-muridnya. Sejak itu beliau dikenali di Medan sebagai ahli sarjana atau ahli ilmu tasawuf.


    Setelah dua tahun di Medan beliau sekeluarga berpindah ke Padang. Kira-kira dua bulan di Padang, beliau pindah pula ke Palembang. Disana beliau terus mengajar dan memberi pimpinan kepada orang-orang yang berminat dengan ilmunya. Di sinilah (kira-kira tahun 1958) beliau mula menulis/mengarang bukunya ‘Diriku Yang Kukenal.’ (Penulisan buku ini tamat kira-kira 10 atau 11 tahun kemudian dan dikemukakan ke St. Olav’s Academy, Perancis, sebagai tesis untuk melayakkannya memperolehi ijazah ‘Doctor of Philosophy’ yang diterimanya pada hari sabtu 12 Jun 1971)


    Beliau masuk ke Singapura pada tahun 1960 dengan perantara Nasir Adnin dan pada kali keduanya ke Singapura beliau bersama Nasir masuk ke Malaysia (Tanah Melayu) melalui Johor Bahru dan kemudian terus ke Melaka, Kuala Lumpur dan lain-lain. Apabila berlaku konfrantasi Malaysia-Indonesia pada tahun 1963, beliau yang ketika itu berada di Malaysia terpaksa balik ke Indonesia bersama Nasir melalui jalan darat dari Sabak Bernam ke Kelantan, Golok, Narathiwat dan terus ke Bangkok. Dari Bangkok mereka menaiki kapal membawa beras ke Jakarta.


    Apabila konfrantasi berakhir pada tahun 1966, beliau bersama Nasir datang semula ke Singapura dan Malaysia. Sejak itu Bapak semakin kerap datang ke kedua-dua negara berkenaan secara bersendirian. Namun, pada pertengahan 1971, beliau dilarang masuk ke Singapura. Beberapa orang ‘anak didik’ Bapak Dr. Bagindo Muchtar sendiri dikatakan telah membuat laporan yang menyebabkan pihak Imigresen mengambil ketetapan untuk melarang kemasukan beliau ke negara berkenaan.


     Pada tahun 1972, beliau sekeluarga pindah ke Jakarta dan sering berulang-alik ke Malaysia, apatahlagi semasa suami kepada anak yang sulung, Haji Salam Ghani berkhidmat di Kedutaan Indonesia di Kuala Lumpur. Pada tahun 1973, iaitu ketika dalam siri lawatan ke Malaysia dan sewaktu mahu berangkat pulang ke Jakarta, beliau mengalami muntah darah. Keberangkatan pulang dibatalkan dan beliau dimasukkan ke Hospital Besar Kuala Lumpur oleh anak dan menantunya Haji Salam Ghani. Beliau kemudian dipindahkan dari rumah Hospital Besar Kuala Lumpur ke Hospital Lady Templer, Cheras. Beliau tinggal di hospital berkenaan selama dua bulan. Walaupun dibenarkan pulang ke Indonesia, beliau sering datang ke Kuala Lumpur untuk mengambil ubat dan menemui orang-orang kepercayaannya iaitu Haji Kamarudin Amin, Haji Jamil Samad, Mejar (B) Haji Abdul Rahman Ibrahim.


    Pada tahun 1975, beliau ke Malaysia dalam rencana lawatan selama dua bulan. Namun baru sebulan sahaja berada di Malaysia, beliau mengambil keputusan untuk kembali ke Jakarta. Sekembalinya dari lawatan itu, beliau jatuh sakit, tetapi masih berhasrat untuk ke Malaysia semula. Pada malam hari raya Aidilfitri beliau mulai payah bernafas dan pada keesokkan harinya dimasukkan ke rumah sakit. Beliau ditempatkan di wad jantung selama dua hari. Pada hari Jumaat 10 Oktober (jam 04.00 pagi waktu Jakarta), dihadapan isteri keduanya Ibu Hajjah Hasnah, ketiga-tiga puterinya, menantunya Haji Abdul Salam Ghani dan seorang anak didiknya bernama Ibu Yasmimar Alwi, Bapak Dr. Bagindo Muchtar pulang ke Rahmatullah.

Mejar (B) Haji Abdul Rahman Ibrahim Lunas, Kedah

Biodata ini dipetik dari Koleksi Kuliah Edisi 2003 Pulau Pinang oleh Mejar (B) Haji Abdul Rahman Ibrahim (Allahyarham)


.